Kecamatan Semarang Selatan merupakan salah satu kecamatan dari 16 Kecamatan di Kota Semarang, yang dibentuk berdasarkan Peraturan Daerah Kota Semarang Nomor 14 Tahun 2004 tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Kecamatan dan Kelurahan di Kota Semarang.
Kecamatan Semarang Selatan ditetapkan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 50 tahun 1992 tentang Pembentukan Kecamatan di Wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II Purbalingga, Cilacap, Wonogiri, Jepara, dan Kendal serta Penataan Kecamatan di Wilayah Kotamadya Semarang dalam wilayah Propinsi Jawa Tengah.
Secara topografi Kecamatan Semarang Selatan terletak di dataran rendah namun berbukit-bukit. Sesuai Rencana Tata Ruang dan Wilayah ( RTRW ) Kecamatan Semarang Selatan merupakan lokasi perdagangan, perumahan, dan pendidikan, dengan batas-batas wilayah administrasi sebagai berikut :
- Sebelah Utara : Kecamatan Semarang Tengah, dan Kecamatan Semarang Timur
- Sebelah Barat : Kecamatan Semarang Barat
- Sebelah Selatan : Kecamatan Gajahmungkur, Kecamatan Semarang Selatan, Kecamatan Tembalang
- Sebelah Timur : Kecamatan Gayamsari, Kecamatan Pedurungan dan Kecamatan Tembalang
Kecamatan Semarang Selatan dengan luas wilayah sebesar 556,01 Ha, terdiri dari 10 Kelurahan, yaitu Kelurahan Bulustalan, Kelurahan Randusari, Kelurahan Barusari, Kelurahan Mugassari, Kelurahan Pleburan, Kelurahan Wonodri, Kelurahan Peterongan, Kelurahan Lamper Lor, Kelurahan Lamper Kidul, Kelurahan Lamper Tengah dan memiliki jumlah penduduk sebanyak 70.403 iwa dengan jumlah 71 RW (Rukun Warga) dan 498 RT (Rukun Tetangga).
Masing-masing kelurahan mempunyai persamaan dan perbedaan karakteristik permasalahan maupun potensinya. Persamaan permasalahan antara lain terkait masalah produksi sampah, masalah kebersihan lingkungan, masalah kesehatan masyarakat, masalah kemiskinan.
Persamaan potensi antara lain dapat ditinjau dari aspek pemberdayaan kelembagaan masyarakat RT, RW, LPMK, PKK, Karang Taruna, potensi yang dapat dimanfaatkan dari sampah.
Perbedaan karakteristik permasalahan antara lain disebabkan perbedaan topografi, ada wilayah perbukitan seperti Kelurahan : Randusari, Mugassari, Pleburan dan Wonodri yang menghadapi kendala distribusi air bersih, pengangkutan sampah tentu tidak sama dengan permasalahan wilayah relative datar seperti : Kelurahan Bulustalan, Barusari, Peterongan, Lamper Lor, Lamper Kidul dan Lamper Tengah.
Sedangkan perbedaan potensi dapat ditinjau perekonomian lokal seperti adanya pasar Bulu di Kelurahan Barusari dan Kelurahan Bulustalan, Pasar Randusari di Kelurahan Randusari, Pasar Wonodri di Kelurahan Wonodri, Pasar Peterongan di Kelurahan Peterongan, Pasar Mrican di Kelurahan Lamper Kidul. Pasar Modern seperti ADA Swalayan di Bulustalan, Java Supermall di Kelurahan Lamper Kidul.
Perbedaan potensi wisata, antara lain wisata oleh-oleh khas semarangan di Pandanaran Kelurahan Randusari dan Mugassari. Potensi Wisata religi seperti Khaul Kyai Soleh Darat di kompleks TPU Bergota Kelurahan Randusari, Masjid Pandanaran di Kelurahan Mugassari, Khaul Habib Hasan bin Toha bin Muhammad bin Thoha bin Yahya yang dikenal oleh masyarakat dengan nama Mbah Kramat Jati di Kompleks Masjid Al Hidayah Kelurahan Lamper Kidul.

